Funnel Marketing 2026: Kenapa Konten Gak Bisa Satu Jenis

Last updated on December 30

Pernah ngerasa konten kamu rajin upload, desain oke, caption niat… tapi hasilnya gitu-gitu aja? Engagement naik dikit, tapi penjualan gak ke mana-mana. Tenang, kamu gak sendirian.

Di 2026, problemnya bukan kurang konten — tapi konten salah fungsi.

Banyak brand masih maksa satu jenis konten buat semua tujuan. Padahal audiens itu ada fasenya. Ada yang baru kenal, ada yang lagi mikir, ada juga yang siap beli. Nah, di sinilah funnel marketing jadi penyelamat.

“Konten yang bagus itu bukan yang viral, tapi yang tepat sasaran.”


Apa Itu Funnel Marketing?

Funnel marketing adalah cara ngatur perjalanan audiens dari sekadar tahu sampai akhirnya beli. Disebut funnel karena makin ke bawah, audiens makin sedikit tapi makin serius.

Di 2026, funnel gak lagi kaku kayak dulu. Bukan cuma soal urutan, tapi soal niat audiens (intent).

Sekarang:

  • Audiens lebih kritis

  • Algoritma makin personal

  • AI bantu analisis, tapi keputusan tetap di manusia

Artinya, konten harus relevan di setiap fase. Gak bisa asal posting terus berharap closing.


Kenapa Konten Gak Bisa Satu Jenis?

Jawaban singkatnya: karena audiens kamu beda-beda mindset-nya.

Bayangin kamu baru kenal sebuah brand, terus langsung disodorin promo “Beli Sekarang!”. Rasanya gimana? Aneh, kan.

Masalah yang sering terjadi:

  • Konten edukasi disuruh jualan

  • Konten awareness dikasih CTA berat

  • Semua postingan berharap closing

Hasilnya? Audiens capek, trust turun, algoritma pun ikut dingin.


Hubungan Customer Journey dan Funnel Marketing

Customer journey adalah perjalanan emosional audiens. Dari:

  1. Kenal

  2. Penasaran

  3. Percaya

  4. Beli

  5. Balik lagi

Funnel marketing bantu kamu ngasih konten yang sesuai di setiap tahap. Kalau kamu loncat fase, audiens bakal loncat pergi.

“Orang beli bukan karena konten kamu, tapi karena mereka siap.”


Kenalan Sama TOFU, MOFU, BOFU

Ini inti dari funnel marketing. Simpel tapi krusial.


TOFU (Top of Funnel): Bangun Awareness

TOFU itu fase kenalan. Audiens belum butuh produk kamu, mereka baru sadar punya masalah.

Fungsi konten TOFU:

  • Edukasi ringan

  • Bangun brand awareness

  • Bikin audiens ngerasa “oh gue relate”

Contoh konten:

  • Tips singkat

  • Insight industri

  • Konten problem-based

Kesalahan umum:
❌ TOFU tapi langsung jualan
❌ Kebanyakan CTA berat


MOFU (Middle of Funnel): Bangun Kepercayaan

Di MOFU, audiens udah sadar masalah dan mulai cari solusi. Mereka belum beli, tapi lagi membandingkan.

Fungsi konten MOFU:

  • Edukasi lebih dalam

  • Bangun trust

  • Nurture lead

Contoh konten:

  • Thread edukatif

  • Artikel mendalam

  • Email edukasi

Kesalahan umum:
❌ Edukasi tapi gak diarahkan
❌ Konten terlalu teknis tanpa konteks


BOFU (Bottom of Funnel): Dorong Konversi

Ini fase paling dekat sama penjualan. Audiens udah siap, tinggal diyakinkan.

Fungsi konten BOFU:

  • Bantu ambil keputusan

  • Tunjukin value

  • Konversi tanpa maksa

Contoh konten:

  • Penjelasan produk

  • Testimoni

  • Offer spesifik

Kesalahan umum:
❌ Terlalu hard selling
❌ CTA gak jelas


Contoh Nyata Konten TOFU, MOFU, BOFU

Biar kebayang:

  • TOFU: “Kenapa iklan kamu boros tapi gak closing?”

  • MOFU: “Cara baca data ads biar tau mana yang bocor”

  • BOFU: “Audit ads gratis buat yang mau scaling aman”

Satu topik, beda pendekatan. Itu kunci funnel.


Kesalahan Umum Konten Tanpa Funnel

Banyak brand gagal bukan karena malas, tapi karena salah arah.

Kesalahan yang sering kejadian:

  • Semua konten disuruh jualan

  • Edukasi tapi gak pernah closing

  • CTA gak nyambung sama fase audiens

  • KPI disamaratakan

Efek jangka panjangnya? Trust turun, brand dianggap “jualan doang”.


Funnel Marketing di Era Algoritma & AI (2026)

Algoritma sekarang:

  • Baca behavior

  • Prioritas relevansi

  • Anti konten maksa

AI bantu:

  • Analisis performa

  • Segmentasi audiens

  • Rekomendasi distribusi

Tapi konten tetap harus manusiawi. Funnel bukan soal mesin, tapi soal empati.

“AI bantu baca data, tapi manusia yang paham emosi.”


Cara Menyusun Strategi Konten Berbasis Funnel

Biar gak ribet, mulai dari:

  1. Tentuin tujuan tiap konten

  2. Petakan konten TOFU–MOFU–BOFU

  3. Sinkronin organic & ads

  4. Jangan semua konten disuruh closing

Konsisten itu penting, tapi konsisten tanpa arah cuma buang energi.


KPI yang Tepat di Setiap Funnel

Salah KPI = salah keputusan.

  • TOFU: Reach, impression, awareness

  • MOFU: Engagement, CTR, lead

  • BOFU: Conversion, revenue, ROAS

Jangan nilai TOFU dari sales. Jangan nilai BOFU dari likes.

"ROAS Rendah Bukan Berarti Iklan Gagal, Ini Alasannya"

Apakah Semua Bisnis Wajib Pakai Funnel Marketing?

Jawabannya: iya, tapi fleksibel.

UMKM, brand besar, creator, digital agency — semua punya funnel. Bedanya cuma ukuran dan kompleksitas.

Funnel itu peta, bukan hal atau aturan yang saklek.


FAQ Funnel Marketing

Q: Apa itu TOFU, MOFU, BOFU?
A: Tahapan funnel dari awareness sampai conversion.

Q: Kenapa konten edukasi gak langsung jualan?
A: Karena trust datang sebelum transaksi.

Q: Konten mana paling penting?
A: Semua penting, selama sesuai fungsinya.

Q: Bisnis kecil perlu funnel?
A: Justru makin perlu, biar gak buang budget.

"Full Funnel Ads: Struktur Iklan Stabil Hemat Budget Maksimal"

Penutup: Funnel Itu Bantu, Bukan Ngebatesin

Di 2026, konten bukan soal rajin upload. Tapi soal ngerti posisi audiens.

Kalau konten kamu tepat di fase yang tepat:

  • Trust naik

  • Algoritma ramah

  • Penjualan lebih natural

“Konten yang tepat di fase yang tepat, selalu lebih kuat.”

Recent Post

Armand Surya Written by:

A super saiyan in disguise. Secretly study humanity as part of his counter intelligence work at Dipstrategy