AI vs Human Content: Artikel Instan Bisa Jadi Bumerang

Last updated on January 13

“Kalau AI bisa menulis artikel SEO dalam beberapa detik, buat apa repot-repot mikir terlalu jauh?”

Kalimat ini mungkin bisa saja terlontarkan oleh seseorang yang mulutnya suka asal ceplos. Bahkan, bisa jadi pernah terlintas di kepala kita sendiri—terutama di era ketika AI generated content bisa diproduksi secepat mie/kopi instan. Secara logika efisiensi, pemikiran ini benar. AI memang cepat, rapi, dan murah.

Tapi masalahnya, dunia konten tidak cuma soal cepat dan rapi. Ada logika lain yang sering luput dibahas: logika nilai. Dan di titik inilah, artikel instan justru bisa berubah menjadi bumerang—bukan cuma untuk kualitas konten, tapi juga untuk karier penulis dan praktisi SEO itu sendiri.


Konten AI yang Terlalu Aman Justru Berbahaya

Sebagian besar konten SEO berbasis AI hari ini terlihat “oke”. Tata bahasanya rapi, strukturnya jelas, dan keyword-nya masuk semua. Tapi coba jujur sebentar: berapa banyak artikel AI yang benar-benar kamu ingat setelah membacanya?

Mayoritas konten AI punya satu ciri khas: terlalu aman.

Aman artinya:

  • Tidak berisik

  • Nggak menantang

  • bahkan sama sekali tidak menawarkan sudut pandang baru

Dalam jangka pendek, konten seperti ini memang bisa tayang cepat dan kelihatan profesional. Tapi dalam jangka panjang, ia rentan tenggelam di lautan konten serupa. Inilah yang sering luput disadari: konten yang aman hari ini bisa jadi tidak relevan besok.

Konten yang benar-benar bernilai biasanya tidak bermain aman. Ia berani sedikit “aneh”, sedikit tidak nyaman, dan kadang bahkan memancing debat.

Baca ini: "Standar E-E-A-T vs Konten AI"

Information Entropy dan Cara Kerja AI Generatif

Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu sedikit menengok konsep dari dunia sains: information entropy.

Konsep ini dipopulerkan oleh Claude Shannon, bapak teori informasi. Secara sederhana, nilai sebuah pesan ditentukan oleh seberapa tidak terduga pesan tersebut.

  • Low entropy content → mudah ditebak, polanya berulang

  • High entropy content → mengejutkan, unik, membuka perspektif baru

Masalahnya, AI generatif secara matematis didesain untuk memprediksi kata berikutnya yang paling mungkin muncul—dikenal sebagai next token prediction. Artinya, AI sangat jago menghasilkan teks yang masuk akal, tapi tidak selalu bernilai tinggi.

Ini bukan salah AI. Ini sifat dasarnya.

AI unggul dalam:

  • Meniru pola

  • Merangkum konsensus

  • Menghasilkan teks yang “normal”

Tapi justru karena itu, output-nya cenderung berada di wilayah entropy rendah. Aman. Rata-rata. Tidak berisik.

“AI tidak diciptakan untuk melawan arus. Ia diciptakan untuk mengikuti arus paling kuat.”


Kenapa Konten Ber-Entropy Rendah Sulit Menang di SEO

Di sinilah banyak praktisi SEO mulai gelisah. Karena meskipun AI generated content bisa membantu produksi massal, realitas SEO hari ini sudah berubah.

Google dan mesin pencari lain semakin fokus pada:

  • Authority

  • Original insight

  • Pengalaman nyata

Konten yang terlalu generik punya beberapa masalah serius:

  1. Mudah diringkas oleh AI Search

  2. Tidak membangun diferensiasi brand

  3. Sulit dijadikan referensi atau kutipan

Di era zero-click search dan generative answers, konten dengan entropy rendah justru paling rentan “diambil sari-nya” tanpa pernah benar-benar diklik.

Kalau artikel kamu tidak membawa perspektif unik, mesin pencari tidak punya alasan kuat untuk memprioritaskannya. Di sinilah future of SEO writing mulai terlihat: bukan soal siapa paling cepat publish, tapi siapa paling bermakna.


The Human Signature sebagai Pembeda Utama

Lalu, apakah solusinya kita harus membuang AI dan kembali menulis manual pakai mesin tik? Tentu tidak. Itu romantis, tapi tidak realistis.

Solusinya adalah sesuatu yang bisa kita sebut The Human Signature.

Human written content yang kuat selalu punya ciri:

  • Pengalaman langsung

  • Data unik

  • Sudut pandang personal

  • Keberanian mengambil posisi

Inilah wilayah yang sulit ditiru AI.

The Human Signature bukan berarti menolak AI. Justru sebaliknya. AI diposisikan sebagai mesin pemroses, bukan sumber makna. Manusialah yang menyuntikkan entropy tinggi ke dalam sistem.

“AI bisa menyusun kalimat. Manusia memberi makna.”

Konten dengan Human Signature cenderung lebih tahan lama, lebih dikutip, dan lebih dekat dengan konsep thought leadership content.


Cara Menggunakan AI Tanpa Kehilangan Originalitas

Pertanyaannya sekarang: bagaimana caranya menggunakan AI tanpa terjebak konten generik?

Jawabannya sederhana tapi tidak instan: ribet di awal, efisien di akhir.

Beberapa pendekatan praktis:

  • Feed AI dengan transkrip wawancara expert

  • Masukkan data mentah riset internal

  • Gunakan studi kasus nyata, bukan asumsi

Alih-alih meminta AI “nulis opini”, minta AI:

  • Mengekstrak poin paling kontroversial

  • Menemukan pola anomali

  • Merapikan struktur argumen

Inilah cara menggunakan AI tanpa kehilangan originalitas. AI bekerja sebagai editor super cepat, bukan penulis utama. Pendekatan ini memperkuat peran manusia dalam content marketing berbasis AI.


Dampak AI Generatif terhadap Karier SEO Writer

Sekarang kita bicara soal karier—bukan cuma konten.

Dampak AI generatif terhadap profesi SEO writer tidak selalu berupa PHK massal. Bahayanya lebih halus: komoditisasi. Writer yang hanya menghasilkan konten generik akan mudah digantikan—oleh AI atau oleh writer lain yang lebih murah.

Sebaliknya, writer yang punya Human Signature:

  • Lebih sulit digantikan

  • Bisa dipercaya

  • Sangat dihargai

Peran writer pun bergeser:

  • Dari pengetik → problem framer

  • Pengisi halaman → pembawa perspektif

  • Operator → strategist

Di sinilah garis pemisahnya. AI mempercepat pekerjaan teknis, tapi nilai strategis tetap milik manusia.


Di Tahun 2026, AI Bukan Lawan — Tapi Cermin

Melihat ke depan, AI dalam content marketing akan semakin canggih. Tapi satu hal tidak berubah: AI hanya memantulkan kualitas input yang kita berikan.

Input dangkal → output dangkal
Input kaya → output bernilai

AI adalah cermin. Ia tidak membuat kita bodoh atau pintar. Ia hanya memperbesar apa yang sudah ada.

“Di era AI, kualitas manusia justru makin kelihatan.”


Penutup: Pilihan yang Tidak Pernah Netral

Pada akhirnya, perdebatan AI vs human content bukan soal teknologi. Ini soal pilihan.

Kita bisa memilih:

  • Cepat, instan, dan biasa-biasa saja

  • Atau ribet di awal, tapi relevan di jangka panjang

Artikel instan memang menggoda. Tapi tanpa Human Signature, ia mudah berubah menjadi bumerang—terlihat produktif, tapi perlahan menggerus nilai diri kita sendiri.

Di tahun-tahun ke depan, AI akan selalu ada. Pertanyaannya bukan lagi “pakai AI atau tidak?”
Pertanyaannya: apakah kamu masih punya sesuatu yang layak diproses oleh AI?

Source: Linkedin Eriga Syifaudin Al Mansur

Recent Post

Armand Surya Written by:

A super saiyan in disguise. Secretly study humanity as part of his counter intelligence work at Dipstrategy