{"id":35883,"date":"2026-10-23T09:00:08","date_gmt":"2026-10-23T02:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/?p=35883"},"modified":"2026-10-13T22:41:01","modified_gmt":"2026-10-13T15:41:01","slug":"struktur-landing-page-3-aturan-biar-iklan-nggak-boncos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/struktur-landing-page-3-aturan-biar-iklan-nggak-boncos\/","title":{"rendered":"Struktur Landing Page: 3 Aturan Biar Iklan Nggak Boncos"},"content":{"rendered":"<p><strong>Key Takeaways<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Landing page adalah halaman tunggal dengan satu tujuan konversi<\/strong> \u2014 mengisi form, menghubungi via WhatsApp, mendaftar event. Ia berbeda dari homepage dan halaman layanan.<\/li>\n<li><strong>Maksimal 5 section.<\/strong> Dari pengalaman internal kami, sekitar 50% pengunjung berhenti di setiap perpindahan section. Dari 1.000 pengunjung, hanya sekitar 63 yang sampai ke section ke-5.<\/li>\n<li><strong>Tanpa link keluar.<\/strong> Setiap link ke halaman lain adalah pintu keluar dari konversi. Uji A\/B HubSpot menunjukkan kenaikan konversi hingga 28% setelah navigasi dihapus.<\/li>\n<li><strong>White space bukan ruang kosong yang terbuang.<\/strong> Mayoritas pengguna web memindai (scan), bukan membaca. Satu section yang memuat terlalu banyak informasi justru membuat tidak ada satu pun pesan yang sampai.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Banyak tim marketing menghabiskan energi di iklan \u2014 memilih audiens, menulis copy, mengatur bidding \u2014 lalu mengarahkan semua traffic itu ke halaman yang tidak dirancang untuk menerimanya. Hasilnya bisa ditebak: cost per click terbayar, tapi leads tidak datang.<\/p>\n<p>Masalahnya jarang ada di desain yang kurang cantik. Lebih sering, masalahnya ada di <strong>struktur<\/strong>: terlalu banyak section, terlalu banyak jalan keluar, dan terlalu banyak informasi di satu layar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_35887\" aria-describedby=\"caption-attachment-35887\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/The-Endless-Landing-Page-Scroll.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-35887\" src=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/The-Endless-Landing-Page-Scroll.jpg\" alt=\"Landing Page\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/The-Endless-Landing-Page-Scroll.jpg 1000w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/The-Endless-Landing-Page-Scroll-300x200.jpg 300w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/The-Endless-Landing-Page-Scroll-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-35887\" class=\"wp-caption-text\">Landing Page yang terlalu panjang<\/figcaption><\/figure>\n<p>Di artikel ini kami membagikan tiga aturan struktur yang kami pegang saat membangun landing page kampanye untuk klien \u2014 lengkap dengan data internal dari proyek yang kami tangani dan riset publik yang mendukungnya.<\/p>\n<h2>Landing Page, Homepage, dan Halaman Layanan: Apa Bedanya?<\/h2>\n<p>Sebelum masuk ke aturannya, perlu disamakan dulu definisinya. Tiga aturan di artikel ini berlaku untuk <strong>landing page kampanye<\/strong>, bukan untuk semua halaman website.<\/p>\n<table width=\"100%\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"150\"><strong>Aspek<\/strong><\/td>\n<td width=\"150\"><strong>Landing Page Kampanye<\/strong><\/td>\n<td width=\"150\"><strong>Homepage<\/strong><\/td>\n<td width=\"151\"><strong>Halaman Layanan<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"150\">Tujuan<\/td>\n<td width=\"150\">Satu konversi spesifik<\/td>\n<td width=\"150\">Mengenalkan brand &amp; mengarahkan ke banyak halaman<\/td>\n<td width=\"151\">Menjelaskan satu layanan secara lengkap<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"150\">Sumber traffic utama<\/td>\n<td width=\"150\">Iklan (Google Ads, Meta Ads), email, KOL<\/td>\n<td width=\"150\">Direct, branded search<\/td>\n<td width=\"151\">Organik (SEO), referral<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"150\">Navigasi menu<\/td>\n<td width=\"150\">Tidak ada<\/td>\n<td width=\"150\">Lengkap<\/td>\n<td width=\"151\">Ada, biasanya ringkas<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"150\">Jumlah CTA<\/td>\n<td width=\"150\">Satu (boleh diulang)<\/td>\n<td width=\"150\">Banyak<\/td>\n<td width=\"151\">Satu utama, beberapa pendukung<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"150\">Kedalaman konten<\/td>\n<td width=\"150\">Singkat dan fokus<\/td>\n<td width=\"150\">Ringkas, luas<\/td>\n<td width=\"151\">Lebih dalam, karena harus bisa ranking<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perbedaan ini penting. Halaman layanan yang menargetkan pencarian organik memang butuh konten lebih dalam dan navigasi agar pengunjung yang belum mengenal brand bisa memverifikasi kredibilitas. Landing page kampanye tidak \u2014 pengunjungnya datang dengan konteks dari iklan, dan tugas halaman hanya satu: mengubah konteks itu menjadi aksi.<\/p>\n<h2>Aturan 1: Maksimal 5 Section, karena Setiap Section &#8220;Memakan&#8221; Setengah Pengunjung<\/h2>\n<p>Dari pengamatan kami di berbagai proyek landing page, <strong>drop rate antar section berada di kisaran 50%<\/strong>. Artinya, setiap kali pengunjung harus scroll ke section berikutnya, kira-kira separuh dari mereka berhenti.<\/p>\n<p>Begini simulasinya untuk halaman dengan 1.000 pengunjung:<\/p>\n<table width=\"100%\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"201\"><strong>Section<\/strong><\/td>\n<td width=\"201\"><strong>Pengunjung yang Sampai<\/strong><\/td>\n<td width=\"201\"><strong>% dari Total<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 1 (hero)<\/td>\n<td width=\"201\">1.000<\/td>\n<td width=\"201\">100%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 2<\/td>\n<td width=\"201\">500<\/td>\n<td width=\"201\">50%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 3<\/td>\n<td width=\"201\">250<\/td>\n<td width=\"201\">25%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 4<\/td>\n<td width=\"201\">125<\/td>\n<td width=\"201\">12,5%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 5<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b163<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b16%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 6<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b131<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b13%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">Section 7<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b116<\/td>\n<td width=\"201\">\u00b11,6%<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mulai section ke-6, yang membaca tinggal segelintir. Menambah section di titik itu tidak lagi menambah persuasi \u2014 hanya menambah waktu loading dan biaya produksi.<\/p>\n<p>Angka 50% ini adalah <strong>pengamatan internal, bukan hukum universal<\/strong>. Drop rate di halaman kamu bisa lebih landai atau lebih curam, tergantung tinggi tiap section, sumber traffic, dan seberapa kuat hero section memancing rasa penasaran. Tapi arahnya konsisten dengan riset eyetracking Nielsen Norman Group: pengguna menghabiskan sekitar 57% waktu melihat halaman di layar pertama, sekitar 17% di layar kedua, dan sisanya tersebar tipis di bawahnya.<\/p>\n<h3>Implikasinya ke struktur halaman<\/h3>\n<p>Kalau hanya sekitar 6% pengunjung yang sampai ke section ke-5, maka <strong>jangan simpan satu-satunya CTA di bagian paling bawah<\/strong>. Prinsip yang kami terapkan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>CTA wajib ada di section pertama.<\/strong> Pengunjung yang sudah yakin dari iklan tidak perlu dipaksa scroll.<\/li>\n<li><strong>Susun section berdasarkan urutan kepentingan, bukan urutan cerita.<\/strong> Argumen terkuat diletakkan paling atas.<\/li>\n<li><strong>Setiap section harus bisa berdiri sendiri<\/strong> \u2014 dengan pesan yang utuh dan akses ke CTA.<\/li>\n<li><strong>Section terakhir adalah &#8220;penutup&#8221; untuk yang masih ragu<\/strong>, bukan satu-satunya pintu konversi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Struktur 5 section yang sering kami pakai sebagai titik awal:<\/p>\n<table width=\"100%\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"201\"><strong>Section<\/strong><\/td>\n<td width=\"201\"><strong>Fungsi<\/strong><\/td>\n<td width=\"201\"><strong>Isi Utama<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"201\">1. Hero<\/td>\n<td width=\"201\">Menjawab &#8220;ini apa dan untuk saya?&#8221;<\/td>\n<td width=\"201\">Headline yang match dengan iklan, satu kalimat value proposition, CTA<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">2. Masalah \/ Untuk Siapa<\/td>\n<td width=\"201\">Membuat pengunjung merasa dipahami<\/td>\n<td width=\"201\">2\u20134 situasi spesifik target audiens<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">3. Solusi \/ Manfaat<\/td>\n<td width=\"201\">Menjelaskan apa yang didapat<\/td>\n<td width=\"201\">Manfaat utama, bukan daftar fitur<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">4. Bukti<\/td>\n<td width=\"201\">Menghapus keraguan<\/td>\n<td width=\"201\">Logo klien, testimoni, angka hasil, sertifikasi<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"201\">5. Penutup<\/td>\n<td width=\"201\">Mendorong aksi terakhir<\/td>\n<td width=\"201\">Form singkat atau tombol WhatsApp, plus penanganan keberatan<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3>Cara mengukur drop rate di halaman kamu sendiri<\/h3>\n<p>Jangan langsung percaya angka kami \u2014 ukur di halamanmu. Scroll tracking bawaan GA4 (enhanced measurement) hanya mencatat scroll 90%, jadi tidak cukup untuk melihat drop per section. Cara yang lebih akurat:<\/p>\n<ul>\n<li>Pasang <strong>Element Visibility trigger di Google Tag Manager<\/strong> untuk setiap section (berdasarkan ID atau class section), lalu kirim sebagai event ke GA4.<\/li>\n<li>Bandingkan jumlah event tiap section dengan jumlah page view.<\/li>\n<li>Lengkapi dengan <strong>heatmap scroll<\/strong> (misalnya Microsoft Clarity yang gratis) untuk melihat di titik mana pengunjung berhenti.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Mengukur per section \u2014 bukan per persentase scroll \u2014 lebih jujur, karena tinggi tiap section berbeda.<\/p>\n<h2>Aturan 2: Tidak Ada Link ke Halaman Lain<\/h2>\n<p>Di landing page kampanye, <strong>setiap link adalah pintu keluar<\/strong>. Menu navigasi, link &#8220;Tentang Kami&#8221;, ikon media sosial, tombol &#8220;Lihat Portofolio&#8221;, hingga link artikel blog \u2014 semuanya memberi pengunjung alasan untuk pergi sebelum mengambil aksi.<\/p>\n<p>Prinsip kami sederhana: <strong>setiap elemen yang bisa diklik di landing page harus mengarah ke konversi.<\/strong><\/p>\n<p>Ini bukan sekadar preferensi. HubSpot pernah menguji A\/B landing page dengan dan tanpa navigasi (menu atas, footer, link share sosial). Versi tanpa link konsisten menang: kenaikannya kecil (0\u20134%) di halaman top-of-funnel, tapi mencapai 16% dan 28% di halaman middle-of-funnel. Studi kasus lain dari Yuppiechef yang dipublikasikan VWO menunjukkan konversi naik dari 3% menjadi 6% hanya dengan menghapus menu navigasi.<\/p>\n<h3>Apa yang dihapus, apa yang boleh tetap ada<\/h3>\n<table width=\"100%\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"301\"><strong>Hapus<\/strong><\/td>\n<td width=\"301\"><strong>Boleh Tetap Ada<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"301\">Menu navigasi utama<\/td>\n<td width=\"301\">Tombol CTA (scroll ke form)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Link footer ke halaman lain<\/td>\n<td width=\"301\">Tombol WhatsApp \/ klik untuk telepon<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Ikon media sosial<\/td>\n<td width=\"301\">Link Kebijakan Privasi (kebutuhan legal, terutama jika form mengumpulkan data pribadi)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Tombol &#8220;Lihat Portofolio&#8221; atau &#8220;Baca Selengkapnya&#8221;<\/td>\n<td width=\"301\">Logo brand tanpa link<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Link artikel blog<\/td>\n<td width=\"301\">Testimoni dan bukti yang ditampilkan langsung di halaman<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika ada informasi yang menurutmu &#8220;harus&#8221; dilihat pengunjung di halaman lain \u2014 portofolio, misalnya \u2014 itu tandanya informasi tersebut perlu <strong>dibawa masuk<\/strong> ke landing page dalam bentuk ringkas, bukan ditautkan keluar.<\/p>\n<h3>Kapan aturan ini boleh dilonggarkan?<\/h3>\n<p>Untuk traffic dingin dari pencarian organik, menghapus semua navigasi tidak selalu menang. Pengunjung yang belum pernah berinteraksi dengan brand kadang butuh cara untuk memastikan bisnis kamu kredibel, dan menghilangkan semua jalur itu bisa menaikkan bounce rate. Inilah alasan halaman layanan yang menargetkan SEO biasanya tetap memakai navigasi, sementara landing page untuk kampanye berbayar tidak.<\/p>\n<p>Jadi pertanyaannya bukan &#8220;pakai navigasi atau tidak&#8221;, tapi <strong>&#8220;dari mana traffic halaman ini datang?&#8221;<\/strong><\/p>\n<h2>Aturan 3: White Space Membuat Setiap Section Punya Satu Pesan<\/h2>\n<p>Kesalahan yang paling sering kami temui saat mengaudit landing page klien: setiap section dipadati informasi karena semuanya terasa penting. Hasilnya justru terbalik \u2014 <strong>ketika semua ditonjolkan, tidak ada yang tertangkap.<\/strong><\/p>\n<p>Pengguna web hari ini memindai, bukan membaca. Riset klasik Nielsen Norman Group menemukan 79% partisipan studi mereka selalu memindai halaman baru, dan hanya 16% yang membaca kata per kata. Studi lanjutan mereka memperkirakan pengguna rata-rata hanya sempat membaca 20\u201328% kata di sebuah halaman. Riset ini memang sudah lama (1997 dan 2008), tapi dengan dominasi mobile dan konten pendek, perilaku memindai kemungkinan besar justru makin kuat, bukan berkurang.<\/p>\n<p>Data Unbounce 2024 juga mendukung arah ini: landing page dengan copy setingkat bacaan kelas 5\u20137 SD memiliki median konversi 11,1%, dibanding 5,3% untuk copy setingkat bacaan universitas. Copy yang ringan dibaca lebih mudah dipindai \u2014 dan white space adalah yang membuat pemindaian itu mungkin.<\/p>\n<h3>White space bekerja dengan tiga cara<\/h3>\n<ol>\n<li><strong>Mengarahkan mata.<\/strong> Ruang kosong di sekitar headline dan tombol CTA membuat keduanya menjadi titik fokus tanpa perlu warna mencolok.<\/li>\n<li><strong>Memisahkan ide.<\/strong> Pengunjung bisa melihat dengan jelas di mana satu pesan selesai dan pesan berikutnya dimulai.<\/li>\n<li><strong>Mengurangi beban kognitif.<\/strong> Halaman terasa &#8220;ringan&#8221; sehingga pengunjung bersedia scroll lebih jauh \u2014 yang berarti drop rate dari Aturan 1 bisa ditekan.<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Patokan praktis per section<\/h3>\n<ul>\n<li><strong>Satu headline<\/strong> yang bisa dipahami dalam sekali lirik.<\/li>\n<li><strong>Satu paragraf pendek<\/strong> atau <strong>maksimal tiga poin<\/strong><\/li>\n<li><strong>Satu visual<\/strong> yang memperkuat pesan, bukan dekorasi.<\/li>\n<li><strong>Satu aksi<\/strong> yang jelas.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Uji sederhana: tutup semua section kecuali satu, tunjukkan ke rekan kerja selama lima detik, lalu tanyakan apa pesannya. Kalau jawabannya tidak sama dengan yang kamu maksud, section itu terlalu padat.<\/p>\n<h2>Checklist Sebelum Landing Page Di-launch<\/h2>\n<table width=\"100%\">\n<thead>\n<tr>\n<td width=\"301\"><strong>Cek<\/strong><\/td>\n<td width=\"301\"><strong>Pertanyaan<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"301\">Jumlah section<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah halaman maksimal 5 section?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">CTA di hero<\/td>\n<td width=\"301\">Bisakah pengunjung konversi tanpa scroll?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Message match<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah headline sama dengan janji di iklan?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Link keluar<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah semua link selain CTA, kontak, dan kebijakan privasi sudah dihapus?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">White space<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah setiap section hanya membawa satu pesan?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Mobile<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah halaman nyaman dibaca di layar HP? Data Unbounce 2024 mencatat 82,9% pengunjung landing page datang dari mobile.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Kecepatan<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah halaman cepat terbuka di koneksi seluler?<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"301\">Tracking<\/td>\n<td width=\"301\">Apakah form submit, klik WhatsApp, dan visibilitas tiap section sudah terlacak?<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk mengukur apakah landing page benar-benar menghasilkan, hubungkan data konversi dengan biaya iklan menggunakan perhitungan <a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/romi-return-on-marketing-investment-rumus-cara-hitung-contoh\/\">ROMI (Return on Marketing Investment)<\/a>.<\/p>\n<h2>Kapan Sebaiknya Landing Page Dibangun oleh Agency?<\/h2>\n<p>Landing page terlihat sederhana \u2014 satu halaman, lima section. Tapi menyatukan copy yang match dengan iklan, struktur yang memandu mata, tracking per section, dan kecepatan muat di mobile butuh kerja tim strategi, desain, dan developer sekaligus.<\/p>\n<p>Kami di DiPStrategy membangun <a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/landing-page\">landing page yang dirancang untuk konversi<\/a> dengan enam elemen inti: single-focus messaging, conversion-first design, mobile-first &amp; fast load, trust signal architecture, tracking yang terukur, dan copy yang selaras dengan iklan. Dari brief ke halaman aktif dalam 10 hari kerja, dan konsultasi awal tidak dipungut biaya.<\/p>\n<p>Jika yang kamu butuhkan adalah website lengkap \u2014 bukan halaman kampanye \u2014 lihat layanan <a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/website-design-development\">Website Design &amp; Development<\/a> kami. Dan jika target utamamu adalah traffic organik dari Google maupun AI search, mulailah dari <a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/jasa-seo\">layanan SEO \/ GEO<\/a>.<\/p>\n<h2>FAQ<\/h2>\n<p><strong>Berapa jumlah section ideal untuk landing page?<\/strong><\/p>\n<p>Kami merekomendasikan maksimal 5 section. Dari pengalaman internal kami, sekitar 50% pengunjung berhenti di setiap perpindahan section, sehingga hanya sekitar 6% pengunjung yang sampai ke section ke-5.<\/p>\n<p><strong>Apakah landing page boleh memiliki menu navigasi?<\/strong><\/p>\n<p>Untuk landing page kampanye berbayar, sebaiknya tidak. Setiap link menjadi jalan keluar dari konversi. Pengecualiannya adalah halaman yang menerima traffic organik dari pengunjung yang belum mengenal brand \u2014 di sana navigasi ringkas bisa membantu membangun kepercayaan.<\/p>\n<p><strong>Apa bedanya landing page dan website?<\/strong><\/p>\n<p>Website terdiri dari banyak halaman dengan banyak tujuan. Landing page adalah satu halaman dengan satu tujuan konversi, biasanya untuk menampung traffic dari kampanye iklan, email, atau KOL.<\/p>\n<p><strong>Berapa conversion rate landing page yang bagus?<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Unbounce Conversion Benchmark Report 2024, median conversion rate landing page di semua industri adalah 6,6%. Angka ini bervariasi besar antar industri, jadi bandingkan dengan benchmark industrimu, dan perhatikan kualitas leads \u2014 bukan hanya jumlahnya.<\/p>\n<p><strong>Apakah landing page bagus untuk SEO?<\/strong><\/p>\n<p>Umumnya tidak menjadi target utama SEO. Landing page kampanye sengaja dibuat singkat dan fokus, sementara halaman yang ingin ranking di Google butuh kedalaman konten. Untuk traffic organik, gunakan halaman layanan atau artikel, lalu arahkan ke landing page jika diperlukan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Nielsen Norman Group \u2014 Scrolling and Attention: <a href=\"https:\/\/www.nngroup.com\/articles\/scrolling-and-attention\/\">https:\/\/www.nngroup.com\/articles\/scrolling-and-attention\/<\/a><\/li>\n<li>Nielsen Norman Group \u2014 How Users Read on the Web (1997): <a href=\"https:\/\/www.nngroup.com\/articles\/how-users-read-on-the-web\/\">https:\/\/www.nngroup.com\/articles\/how-users-read-on-the-web\/<\/a><\/li>\n<li>HubSpot \u2014 Should You Remove Navigation From Your Landing Pages?: <a href=\"https:\/\/blog.hubspot.com\/marketing\/landing-page-navigation-ht\">https:\/\/blog.hubspot.com\/marketing\/landing-page-navigation-ht<\/a><\/li>\n<li>VWO \u2014 A\/B Testing Case Study: Removing Navigation Menu (Yuppiechef): <a href=\"https:\/\/vwo.com\/blog\/a-b-testing-case-study-navigation-menu\/\">https:\/\/vwo.com\/blog\/a-b-testing-case-study-navigation-menu\/<\/a><\/li>\n<li>Unbounce \u2014 What&#8217;s a Good Conversion Rate? (Conversion Benchmark Report 2024): <a href=\"https:\/\/unbounce.com\/landing-pages\/whats-a-good-conversion-rate\/\">https:\/\/unbounce.com\/landing-pages\/whats-a-good-conversion-rate\/<\/a><\/li>\n<li>MarketingProfs \u2014 Landing Page Conversion Benchmarks for 2024: <a href=\"https:\/\/www.marketingprofs.com\/charts\/2024\/52374\/landing-page-conversion-benchmarks\">https:\/\/www.marketingprofs.com\/charts\/2024\/52374\/landing-page-conversion-benchmarks<\/a><\/li>\n<li>Lilach Bullock \u2014 Should Your Landing Page Have Navigation Links?: <a href=\"https:\/\/www.lilachbullock.com\/should-landing-page-have-navigation-links\/\">https:\/\/www.lilachbullock.com\/should-landing-page-have-navigation-links\/<\/a><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Key Takeaways Landing page adalah halaman tunggal dengan satu tujuan konversi \u2014 mengisi form, menghubungi via WhatsApp, mendaftar event. Ia berbeda dari homepage dan halaman layanan. Maksimal 5 section. Dari pengalaman internal kami, sekitar 50% pengunjung berhenti di setiap perpindahan section. Dari 1.000 pengunjung, hanya&#8230;<\/p>\n<div class=\"more-link-wrapper\"><a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/struktur-landing-page-3-aturan-biar-iklan-nggak-boncos\/\">Baca Selengkapnya<span class=\"screen-reader-text\">Struktur Landing Page: 3 Aturan Biar Iklan Nggak Boncos<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":35887,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9856],"tags":[],"class_list":["post-35883","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-digital-marketing","excerpt","zoom","full-without-featured","even","excerpt-0"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35883","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35883"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35883\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35888,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35883\/revisions\/35888"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35883"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35883"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35883"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}