{"id":32325,"date":"2018-04-20T16:40:12","date_gmt":"2018-04-20T09:40:12","guid":{"rendered":"https:\/\/dipstrategy.com\/blog\/?p=32325"},"modified":"2021-12-07T15:59:22","modified_gmt":"2021-12-07T08:59:22","slug":"perlunya-deteksi-scroll-pada-single-page-website","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/perlunya-deteksi-scroll-pada-single-page-website\/","title":{"rendered":"Bagaimana Tracking Scroll Pada Single Page Website"},"content":{"rendered":"<p>Tema <em>Single Page Website<\/em> menjadi <em>trend<\/em> sejak tahun 2013 sampai saat ini. <em>Single Page Website <\/em>merupakan istilah bagi website yang terdiri hanya dari satu halaman. Hmm\u2026 bisa juga sih terdiri dari beberapa halaman, tetapi <em>content<\/em> dan navigasi tetap harus dibuat <em>simple<\/em> dan tidak kompleks. Lalu mengapa tema <em>Single Page Website<\/em> memiliki daya tarik tersendiri? Hal ini karena tampilan isi website yang hanya satu halaman membuat <em>visitors <\/em>menghemat banyak waktu. Mereka hanya perlu <em>scroll <\/em>ke atas dan ke bawah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan tidak perlu berpindah laman.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/dipstrategy.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-32329 size-full\" src=\"https:\/\/dipstrategy.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03.jpg\" alt=\"single page website\" width=\"1250\" height=\"942\" srcset=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03.jpg 1250w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03-300x226.jpg 300w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03-768x579.jpg 768w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03-1024x772.jpg 1024w, https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/LongScrolling_Blog-03-464x350.jpg 464w\" sizes=\"auto, (max-width: 1250px) 100vw, 1250px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Rupanya banyak perusahaan besar yang membuat <em>Single Page Website <\/em>untuk keperluan tertentu. Contoh website yang memakai tema tersebut adalah Siladex Obat Batuk\u00a0 yang dibuat oleh <a href=\"https:\/\/www.konimex.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Konimex<\/a> untuk keperluan <em>campaign <\/em>dan promo produk Siladex, atau website Get Uber\u00a0 yang dibuat oleh Uber supaya para customer mendownload aplikasi Uber.<\/p>\n<p>Saat mengunjungi kedua website tersebut, <em>visitor <\/em>hanya perlu melakukan <em>scroll <\/em>ke atas dan kebawah. Nah, aktivitas <em>scroll<\/em> itu sendiri dapat kita gunakan sebagai parameter untuk mengukur efektifitas sebuah website. Dari hal tersebut kita dapat mengetahui berapa banyak <em>visitor <\/em>\u00a0yang ternyata hanya membuka website kita tanpa melakukan <em>scroll <\/em>dan berapa banyak <em>visitor<\/em> yang <em>scroll <\/em>sampai halaman paling bawah<em>. <\/em>Sehingga nantinya kita dapat mengatur letak <em>content-content <\/em>yang kita anggap paling penting pada website berdasarkan data <em>scroll visitor <\/em>website.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana cara kita memperoleh persentase <em>visitors <\/em>yang melakukan <em>scroll <\/em>pada website? Kita bisa menggunakan Tools yang bernama Google Tag Manager (GTM). Tools tersebut dapat digunakan untuk mengetahui jumlah <em>visitor <\/em>yang melakukan <em>scroll 25%, 50%, 75%, <\/em>dan<em> 100%.<\/em> Pengertian <em>scroll 25% <\/em>adalah <em>visitors<\/em> yang hanya men-<em>scroll <\/em>seperempat dari website kita, lalu <em>scroll 50% <\/em>adalah <em>visitors<\/em> yang men-<em>scroll <\/em>setengah dari website kita, <em>scroll 75% <\/em>adalah <em>visitors<\/em> yang men-<em>scroll <\/em>tiga perempat dari website kita atau hampir melakukan <em>scroll <\/em>sampai bawah, dan yang terakhir <em>scroll 100% <\/em>adalah <em>visitors<\/em> yang men-<em>scroll <\/em>sampai bagian paling bawah website.<\/p>\n<p>Oiya, Google Tag Manager (GTM) sendiri merupakan salah satu fitur dari <a href=\"https:\/\/analytics.google.com\/analytics\/web\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Analytics (GA)<\/a> yang digunakan untuk membantu dalam manajemen tag yang dibutuhkan untuk analisa kebiasaan pengguna tanpa harus mengedit <em>code<\/em> pada <em>backend <\/em>website. Jadi intinya kita tidak perlu mengotak-atik <em>codingan <\/em>di website, karena GTM sudah menyediakan <em>fitur <\/em>untuk mendeteksi <em>scroll <\/em>yang dilakukan oleh <em>visitors <\/em>website, sehingga tugas kita hanya perlu untuk mengaktifkannya.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/9-tips-website-design-yang-meningkatkan-engagement-dan-konversi\/\">9 Tips Website Design yang Meningkatkan Konversi<\/a><\/p>\n<p>Nah, account website yang sudah ada pada GTM dapat ditambahkan <em>scroll tags.<\/em> Pastikan bahwa <em>javascript <\/em>GTM sudah terpasang dengan benar pada website, sehingga <em>tags <\/em>yang akan ditambahkan pada website bisa tersinkronasi.<\/p>\n<h2>Berikut ini langkah-langkah untuk menambahkan <em>scroll tags <\/em>pada website:<\/h2>\n<ol>\n<li>Buka <em>workspace <\/em>website pada GTM<\/li>\n<li>Pilih <em>tags <\/em>dan buat <em>tags <\/em>baru misal dengan nama \u201cScroll 25%\u201d<\/li>\n<li>Pada <em>Tag Configuration <\/em>pilih <em>Universal Analytics<\/em><\/li>\n<li>Pilih <em>Event <\/em>pada <em>Track Type<\/em><\/li>\n<li>Isi <em>category, action, label <\/em>dengan nama \u201cScroll 25%\u201d<\/li>\n<li>Isi value dengan angka satu<\/li>\n<li><em>Checklist <\/em>bagian <em>enable overriding settings in this tag<\/em><\/li>\n<li>Isi <em>tracking ID<\/em> dengan <em>code<\/em> <em>Google Analytics<\/em> (GA) website<\/li>\n<li>Tambahkan <em>triggering <\/em>baru dengan nama \u201cScroll 25%\u201d<\/li>\n<li>Pilih <em>Scroll Depth <\/em>pada menu <em>User Engagement,<\/em> kemudian <em>checklist vertical <\/em>atau <em>horizontal scroll depths <\/em>beserta <em>percentages <\/em>sesuai dengan kebutuhan.<\/li>\n<li>Kemudian pilih <em>All Pages <\/em>pada bagian <em>this trigger fires on<\/em><\/li>\n<li>Simpan <em>Tags<\/em> dengan nama \u201cScroll 25%\u201d dan klik <em>submit<\/em><\/li>\n<li>Untuk melihat apakah <em>Tags Scroll 25% <\/em>sudah terpasang atau belum bisa dilakukan dengan klik <em>Preview <\/em>dan <em>Refresh <\/em>website sehingga muncul notifikasi <em>Tags <\/em>sudah terpasang atau belum.<\/li>\n<li>Dapat ditambahkan <em>Tags <\/em>baru untuk <em>Scroll 50%, 75%, <\/em>dan 100% dengan langkah yang sama.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Hasil dari berapa banyak <em>visitors <\/em>yang melakukan <em>scroll 25%, 50%, 75% <\/em>atau 100% di website dapat dilihat pada <em>Google Analytics <\/em>(GA) pada bagian <em>events<\/em> di menu <em>behavior<\/em>. Setelah didapatkan persentase <em>visitors<\/em> website yang melakukan <em>scroll <\/em>25%, 50%, 75%, dan 100%, kita dapat mengoptimalkan letak <em>content-content<\/em> pada website supaya <em>visitors<\/em> mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dengan mudah atau dapat memberikan <em>suggest<\/em> dalam menyusun konsep website yang menggiring <em>visitors<\/em> melakukan scroll sampai <em>bottom page website<\/em>.<\/p>\n<p>Jadi, bagaimana? Berniat untuk menggunakan GTM dan memanfaatkan fungsi <em>scroll<\/em> yang terdapat pada <em>website<\/em> Anda?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tema Single Page Website menjadi trend sejak tahun 2013 sampai saat ini. Single Page Website merupakan istilah bagi website yang terdiri hanya dari satu halaman. Hmm\u2026 bisa juga sih terdiri dari beberapa halaman, tetapi content dan navigasi tetap harus dibuat simple dan tidak kompleks. Lalu&#8230;<\/p>\n<div class=\"more-link-wrapper\"><a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/perlunya-deteksi-scroll-pada-single-page-website\/\">Read the post<span class=\"screen-reader-text\">Bagaimana Tracking Scroll Pada Single Page Website<\/span><\/a><\/div>\n","protected":false},"author":1481,"featured_media":32329,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9856],"tags":[],"class_list":["post-32325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-digital-marketing","excerpt","zoom","full-without-featured","even","excerpt-0"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1481"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32325"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33437,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32325\/revisions\/33437"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32329"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dipstrategy.co.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}